Minggu, 09 Desember 2012
pelapisan sosial dan kesamaan derajat(tulisan)
ya bisa dibilang sebenarnya pelapisan sosial itu harus dihapuskan dari manusia soalnya itu merupakan kesombongan yang akan berlanjut terus bahkan akan terus menjalar menjadi penyakit bagi penerus bangsa apabila pengajar mereka meneruskan ke adik" kita selanjutnya. sebenarnya itu bisa dihilangkan dengan pemahaman agama di dalam agama islam sudah dijelaskan sesama manusia dilarang saling membeda bedakan manusia karena akan merusak moral mereka sendiri sebagai umat beragama kita harus saling tolong menolong jangan malah menyombongkan diri dengan bangga
pelapisan sosial dan kesamaan derajat
Contoh kasus Pelapisan sosial dan Kesamaan derajat misalnya
Kasus Ade Irma misalnya, setelah 2 tahun memperjuangkan haknya mendapatkan pelayanan kesehatan, oleh Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo baru bisa menerimanya. Walau keberhasilannya itu, harus dibayar mahal dengan nyawanya yang tidak tertolong. Ade, satu diantara sekian banyak pemilik sah kartu keluarga miskin yang ditolak keluhan kesehatannya oleh rumah sakit.
Risma Alfian, bocah pasangan Suharsono (25) dan Siti Rohmah (24), sudah empat belas bulan tergolek lemah di atas tempat tidurnya. Kepalanya yang terus membesar membuat Risma tidak bisa bangun. Sejak umur satu bulan, Risma sudah divonis terkena hydrocephalus (kelebihan cairan di otak manusia sehingga kepala penderita semakin besar).
Bidan tempatnya menerima imunisasi, meminta Risma segera menjalani operasi atas kelainan kepalanya itu. Operasi tidak serta merta bisa dilakukan lantaran butuh biaya yang begitu besar untuk mendanainya.
Bahkan dengan memiliki kartu Gakin yang diperolehnya dengan susah payah, juga tidak mampu bisa membawa Risma dalam perawatan medis. Risma ditolak RSCM lantaran tidak indikasi untuk dirawat.
Dari contoh kasus di atas dapat kita simpulkan bahwa Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat.
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi.
Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
Kasus Ade Irma misalnya, setelah 2 tahun memperjuangkan haknya mendapatkan pelayanan kesehatan, oleh Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo baru bisa menerimanya. Walau keberhasilannya itu, harus dibayar mahal dengan nyawanya yang tidak tertolong. Ade, satu diantara sekian banyak pemilik sah kartu keluarga miskin yang ditolak keluhan kesehatannya oleh rumah sakit.
Risma Alfian, bocah pasangan Suharsono (25) dan Siti Rohmah (24), sudah empat belas bulan tergolek lemah di atas tempat tidurnya. Kepalanya yang terus membesar membuat Risma tidak bisa bangun. Sejak umur satu bulan, Risma sudah divonis terkena hydrocephalus (kelebihan cairan di otak manusia sehingga kepala penderita semakin besar).
Bidan tempatnya menerima imunisasi, meminta Risma segera menjalani operasi atas kelainan kepalanya itu. Operasi tidak serta merta bisa dilakukan lantaran butuh biaya yang begitu besar untuk mendanainya.
Bahkan dengan memiliki kartu Gakin yang diperolehnya dengan susah payah, juga tidak mampu bisa membawa Risma dalam perawatan medis. Risma ditolak RSCM lantaran tidak indikasi untuk dirawat.
Dari contoh kasus di atas dapat kita simpulkan bahwa Masyarakat kita sekarang ini tidak mampu berobat ke rumah sakit karena dirasakan biayanya sangat mahal. Pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah pun belum menjangkau keseluruhan masyarakat.
Dari sekian banyak dokter spesialis di Indonesia, saya sangat yakin bahwa hanya segelintir persen yang benar-benar bisa diandalkan. Bobroknya moral dunia kedokteran sebenarnya sudah dimulai sejak awal proses bagaimana seseorang itu bisa masuk di fakultas kedokteran. Biaya kuliahnya aja udah selangit. Konon lagi mereka-mereka yang mengambil jalur ekstensi.
Biayanya pasti lebih tinggi. Parahnya lagi bagi mereka yang berduit dan kuliah di kedokteran hanya untuk menjaga gengsi. Motivasi mahasiswanya juga berbeda-beda kan. Bayangin aja jika salah satu bidang paling vital di negeri ini, yaitu bidang kesehatan ditangani oleh lulusan fakultas kedokteran yang bermotivasi untuk mendapat ”duit”.
Pantas saja begitu mahalnya harga kesehatan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka (saya tidak mengatakan semua), membuka praktek dan menetapkan tarif mahal kepada pasiennya agar bisa ”balik modal”. Tanpa peduli apakah pasien itu kaya atau miskin. Ini bukan hanya pendapat saya, tapi ini adalah pendapat publik. Pasien hanya dijadikan komoditas untuk memperkaya dokter.
http://www.indosiar.com/ragam/masyarakat-miskin-bakal-sulit-sehat_61938.html
Senin, 26 November 2012
Warga negara & Negara (tulisan)
seorang warga negara wajib dilindungi haknya oleh negara seperti mendapat bantuan hukum di luar negeri sebagai contohnya adalah TKI,mereka adalah pahlawan devisa bagi INDONESIA karena dari mereka negara mendapat devisa yang cukup besar ya walaupun dengan siksaan yang mereka dapatkan disaat bekerja di sana maka dari itulah negara wajib melindungi warga negaranya apabila mereka tidak perlakukan dengan baik akan tetapi apabila dilihat lansung dari kenyataan di lapangan negara telah gagal melindungi warga negaranya di luar negeri karena setelah dilihat banyak yang telah meninggal disana tanpa diketahui oleh pemerintah
Warga negara & negara
Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam kontrol satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.
Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan (bahasa Inggris: citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris: nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.
Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan masyarakatnya. Dari dasar pemikiran ini muncul mata pelajaran
Kewarganegaraan (bahasa Inggris: Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah.
Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Negara juga merupakan suatu wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan yang berlaku bagi semua individu di wilayah tersebut, dan berdiri secara independent.
Syarat primer sebuah negara adalah memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya adalah mendapat pengakuan dari negara lain.
Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.
ADB: Banyak Negara di Asia Tak Mengantisipasi Fenomena Lansia
MANILA, SELASA - Sejumlah negara berkembang di Asia kini tidak berbuat banyak untuk menghadapi warga yang makin tua. Fenomena warga yang makin menua antara lain ditandai dengan produktivitas ekonomi yang menurun, sementara beban perawatan bagi warga tua meningkat di kemudian hari.
Demikian hasil studi yang diluncurkan Bank Pembangunan Asia di Manila, Selasa (24/2). Pada tahun 2050, warga Asia berusia 65 tahun atau lebih akan menjadi 17,5 persen dari total populasi, atau jumlah absolutnya akan mencapai 920 juta jiwa.
Warga Asia akan didominasi penduduk berusia 40 tahun pada 2050. Negara-negara Asia yang lebih kaya, seperti Jepang, China, Hongkong, Korea Selatan, dan Singapura, juga kini sudah memiliki warga lansia dengan porsi yang relatif lebih besar.
Kini sejumlah negara berkembang di Asia sedang menghadapi perubahan demografi yang lebih cepat, di mana komposisi warga usia tua meningkat lebih cepat.
Akan lebih menderita
Ironisnya, banyak dari warga lansia itu hidup di daerah dengan perekonomian tradisional, seperti di Laos, Filipina, Pakistan, Indonesia. Dengan demikian, negara-negara ini akan kesulitan menghadapi warga lansia.
Masalahnya adalah karena tabungan negara-negara tersebut lebih rendah. Faktor lain yang menjadi persoalan adalah tidak siapnya sejumlah lembaga yang berfungsi untuk merawat para lansia.
”Jika sebuah kebijakan tidak dipersiapkan sejak sekarang, warga lansia di sejumlah negara berkembang itu tidak akan menjalani hidup yang bahagia,” demikian hasil studi ADB tersebut.
Jepang masih mempertahankan reputasi sebagai negara dengan jumlah warga lansia terbanyak. (AP/AFP/MON)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kewarganegaraan
http://id.wikipedia.org/wiki/Negara
http://internasional.kompas.com/read/2009/02/25/04382836/ADB.Banyak.Negara.di.Asia.Tak.Mengantisipasi.Fenomena.Lansia
pemuda & sosialisasi (tulisan)
masa-masa remaja adalaha hal yang paling menyenangkan ya menyenangkan mungkin karena kita dapat teman-teman baru,mulai berani iseng kepada orang lain atau mungkin pacar ya seperti itulah tapi ada juga yang harus diperhatikan pada masa remaja yaitu pergaulan bebas,pergaulan bebas dapat juga menyebabkan menyeret kita pada hal-hal negatif seperti meroko,narkoba dan lain-lain maka dari itu daripada ikut ke dalam hal-hal sepert itu mending kita mengaji dan melakukan kegiatan positif ya walaupun di kalangan remaja ada ungkapan "masih aja takut ama orang tua" itu adalah suatu hal yang salah padahal orang tua suatu yang penting dalam menentukan masa depan ita juga.
individu,keluarga dan masyarakat(tulisan)
hubungan setiap manusia memang tidak bisa terpisahkan dari keluarga dan masyarakat karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain tidak bisa hidup sendiri ya sebagai contoh ketika kita masih kecil kita tidak bisa mengambil makanan sendiri perlu bantuan dari orang lain ya seperti itulah manusia sedangkan untuk masyarakat contohnya itu apabila mengadakan acara besar tidak mungkin hanya pihak keluarga saja yang mengerjakan semuanya pasti juga memerlukan masyarakat sebagai bantuan untuk keamanan dan lain lain. usahakan agar kita hidup selalu bersama sama jangan sendiri diri biar bisa berinteraksi takutnya kalau sendirian kita bisa dianggap teroris/pemakai narkoba karena kita terlalu tertutup dengan masyarakat.
pemuda & sosialisasi
Definisi pemuda
Berbagai definisi berkibar akan makna kata pemuda. Baik
ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut
pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau
usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda.
Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam
kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity;
early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness
and vitality characteristic of a young person”.
Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 –
24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan
usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan
bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social
services”
Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam
kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam
ungkapan sifat dan sikap seperti:
1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap
tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka
berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami? Sesungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami
dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini
yang bernama Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).
2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan,
bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan
perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni
gua).“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya.
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pemudayang beriman kepada Tuhan
mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan
hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah
Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya
kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari
kebenaran” (QS.18: 13-14).
3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur
sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi)
Musa.“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan
berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan
berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau
transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi
lainnya dalam sebuahkelompok atau masyarakat.
Sejumlah sosiolog menyebut
sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory).
Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan
oleh individu.
Jenis sosialisasi
Keluarga sebagai perantara sosialisasi primer
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua:
sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam
masyarakat). MenurutGoffman kedua proses tersebut berlangsung dalam
institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi
tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari
masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup
yang terkukung, dan diatur secara formal.
Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan
sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa
kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer
berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak
mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia
mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak
menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara
terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh
warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota
keluarga terdekatnya.
Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi
lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam
kelompok tertentu dalammasyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi.
Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru.
Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan'
identitas diri yang lama.
Tipe sosialisasi
Setiap kelompok masyarakat mempunyai
standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar 'apakah
seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu
berbeda. Di sekolah,
misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau
tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan,
seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan
standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua
tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang
berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di
sekolah dan pendidikanmiliter.
Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam
pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama
anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar upacara peringatan hari Sumpah Pemuda ke-81 di Lapangan Irti Monumen Nasional, Rabu (28/10). Bertindak selaku inspektur upacara Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta, Muhayat. Peringatan Sumpah Pemuda yang ke 81 ini mengangkat tema Pemuda Bersatu, Indonesia Bangkit dan Maju.
Turut hadir dalam upacara tersebut ketua DPRD DKI Jakarta, Ferial Sofyan, Unsur Muspida, para pegawai Pemprov DKI, organisasi pemuda serta para pelajar. Dalam sambutan yang dibacakan inspektur upacara, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng mengatakan para pemuda harus bersatu untuk menghadapi tantangan pada era globalisasi yang semakin berat.
Tugas pemuda para pemuda saat ini, menurut Menpora, adalah mengisi kemerdekaan yang telah direbut para pendahulu. Para pemuda harus menjadi inspirasi dan memberikan kontribusi bagi bangsa. Selain itu peran pemuda harus nyata dan memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan berbangsa.
Pada akhir sambutannya, Menpora berpesan agar pemuda merefleksikan diri dan mengembangkan segala kemampuan yang dipunyai.
Langganan:
Postingan (Atom)